Selasa, 31 Januari 2012

Mendobrak Kebekuan


Untuk pertama kalinya band Indonesia masuk tangga lagu kategori ”Uncharted” dari lembaga pemeringkat dunia, Billboard. Ya, Superman Is Dead mendobrak kebekuan prestasi band Indonesia di mata Billboard.
Dari 50 band populer dunia, Superman Is Dead (SID) menduduki peringkat ke-23. Kategori baru tangga lagu dunia ini didasarkan pada riset jumlah penggemar di internet. SID punya penggemar lebih dari 1,7 juta, dan terus bertambah.
Minggu (23/1), pada acara MuDA Creativity 4th Anniversary di Fakultas Sastra Universitas Udayana, Bali, yang digelar Kompas MuDA dan Aqua, SID menghibur penggemarnya. Panggung sederhana, tata suara jauh dari spesifikasi standar, tapi SID dan penggemarnya tak kehilangan kegembiraan bermain akustik.
Band punk rock bermain akustik? Ya, SID membuktikan, musik keras yang melekat pada diri mereka bisa dihadirkan dengan lembut di halaman Fakultas Sastra Unud.
Pilihan lagu-lagu yang tepat serta celotehan ringan Jerinx (33, I Gede Ari Astina, drum), Eka Rock (35, I Made Eka Arsana, bas), dan Bobby Kool (33, I Made Putra Budi Sartika, vokal dan gitar), membuat suasana makin akrab.
”Kami juga pernah bermain akustik sebelumnya di acara Speak Fest Jakarta. Orang melihat SID bermain akustik seperti melihat sisi lain SID, tetap kritis tapi lebih intim,” begitu Jerinx menjanjikan.
Maka, SID yang di panggung- panggung besar tampak gahar dan tampil ”membabi buta”, sore itu lagu-lagu SID seperti Jika Kami Bersama dan Lady Rose memancarkan kehangatan band yang berbasis di Kuta ini.
Pidato Jerinx dan lelucon Eka membuat band ini ramah terhadap semua segmen penggemar. Sore itu Eka juga membawa dua anaknya yang masih kanak-kanak.
Beban moral
Para personel SID ternyata hanya tiga pemuda biasa, bahkan terlalu sopan untuk ukuran ”anak band” sekalipun. Datang ke Lantai 3 Fakultas Sastra Unud, mereka menata sendiri kursi untuk wawancara. Dari sisi fesyen, jelas amat berbeda dengan penampilan mereka di panggung yang terkesan sangar.
SID menjelma menjadi sosok pria yang ramah dengan tingkat kesopanan khas Bali. Mereka santai melenggang di kerumunan anak-anak Faksas, sebutan untuk fakultas sastra, tanpa pengawalan sehingga siapa pun bisa berfoto bersama.
Bagi Eka, yang logatnya paling sopan dan Bali banget, kedatangan mereka ke Faksas seperti pulang kandang. Ya, selain personel SID sering nongkrong di Unud, Eka adalah lulusan Sastra Inggris Faksas Unud.
Tentang keberhasilan SID menembus Billboard, Eka Rock mengatakan, ”Kita mendapat beban baru, tanggung jawab besar untuk menjadi lebih baik, lebih giat,” katanya.
Selain menembus tangga lagu Billboard, band kelahiran 1995 ini bisa dikatakan lebih dulu dikenal di luar negeri dibanding di negeri sendiri. Orang-orang di Bali biasa mengomentari SID sebagai band yang disukai ”para turis”.
Mereka sudah tur ke berbagai negara, seperti Australia (2007), Amerika Serikat (2009), Singapura (2010), dan Timor Leste (2010).
”Kami pernah main di festival terbesar di Amerika Serikat, Warped Tour Festival,” kata Jerinx. SID satu-satunya band Indonesia yang diundang ke festival itu.
SID sedang menyiapkan album baru kedelapan. ”Kata orang, angka delapan itu lingkaran penuh, simbol rezeki,” kata Jerinx.
Khusus untuk Jerinx dan Eka, mereka akan melebarkan sayap bisnisnya dengan rencana bermain film. Tim produksi film ini semuanya dipegang putra-putra Bali.
Menanggapi kritik
Sebagai band punk rock, SID tak lepas dari berbagai kritik. Pertentangan cara kerja SID, yang masuk label major, sering dibahas di berbagai forum.
SID tak menutup-nutupi berbagai kritik itu. Namun, mereka menanggapinya dengan dingin, tak menggebu-gebu.
”Sejarahnya, punk rock itu memang dari Barat, sistem di sana menjamin pengangguran sekalipun untuk bisa hidup layak,” kata Jerinx. Sistem jaminan sosial seperti itu membuat mereka yang ingin tetap idealis bisa bertahan hidup.
Tapi, sistem seperti itu tak ada di Indonesia. Bagi yang ingin idealis, harus berurusan dengan benturan untuk bertahan hidup. ”Etika punk rock harusnya evolutif dan bisa menyesuaikan dengan lingkungan tempat kita,” kata Bobby Kool.
Lingkungan kita tak mendukung idealisme seperti di dunia Barat. ”Faktor pembajakan yang susah diberantas di Indonesia menjadi faktor yang membuat idealisme harus bertarung dengan fakta-fakta memprihatinkan,” kata Eka.
Jerink menekankan, kalau kita gali dan selami lebih dalam, punk rock bukanlah jenis musik itu sendiri. ”Lebih pada misi dan motivasi bermusik,” katanya.
Sejak SID lahir, mereka berusaha membawa misi dengan melakukan perlawanan terhadap sistem yang bobrok. Menurut SID, yang penting adalah perlawanan lewat lirik yang mereka buat, juga attitude selalu melawan arus utama.
Persoalan cara melawan dan pemilihan lirik, SID juga mengalami evolusi. Mereka percay perlawanan dengan lirik elegan, yang tak sekadar caci maki dan sumpah serapah, akan semakin diterima banyak orang.
Lirik perlawanan tak harus keras memekakkan telinga, lirik lembut pun punya daya dobrak dan daya kritis. ”Selembut apa pun lirik dan lagu yang dibuat Iwan Fals, nuansa perlawanan terasa keras,” Jerinx memberi contoh.
Dalam setiap membuat lirik lagu, SID selalu berpatokan pada dua pertanyaan, yaitu: Adakah yang disuarakan? Adakah yang dilawan?
Pendewasaan SID berimbas pada pemilihan tiap lirik yang tak harus frontal. ”Punk tak harus kasar dan penuh makian. Kita dulu seperti itu, tapi masa-masa itu sudah lewat,” kata Jerinx.
Kata-kata kasar dianggap tak efektif dan arogan. Jika dibungkus dengan bahasa elegan, justru akan membuat banyak orang berpikir. Meminjam judul album band Navicula, istilahnya beautiful rebel, pemberontakan bisa dilakukan secara indah.
”Untuk mengubah sesuatu tak harus dengan kasar dan frontal, semakin frontal dan kasar justru semakin terlihat kita pada posisi lemah, fight fire with ice,” kata Eka Rock. (AMIR SODIKIN)

http://nasional.kompas.com/read/2011/02/08/03030910/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar